Lamunan Di Pagi Hari

Sinar hangat mentari menghadirkan rasa yang sangat nyaman di hatiku. Sementara dinginnya rumput yang menggelitik di telapak kaki memberikan perasaan menyatu dengan alam yang sangat kurindukan. Pagi menjadi suatu rutinitas yang menyenangkan untukku, salah satu manfaat dari berdiam diri di rumah selama pandemi ini.

Sudah berbulan-bulan ini aku tinggal sendiri di rumah. Tidak pernah sekalipun kulangkahkan kaki melewati pagar depan rumah. Sayuran dan makanan sehari-hari pun aku pesan dari kenyamanan telepon genggam, dan diantarkan langsung ke rumah.

Bekerja dari rumah, berolahraga di rumah, menonton film di rumah, bahkan bercengkrama dengan teman dan sanak saudara pun dilakukan dengan voice atau video call dari rumah.

Inilah realita kehidupan di tahun 2020.

Mungkin tidak ada yang pernah menyangka kita akan mengalami masa pandemi seperti ini.

Aku sendiri tidak pernah menyangka di masa modern seperti ini, kita harus takluk dengan suatu jenis virus yang memiliki ciri seperti flu biasa, penyakit yang sebelumnya kupikir tidaklah mematikan.

Kupikir pandemi hanya terjadi di film-film atau di masa lampau, seperti tahun 1918 sampai dengan tahun 1920 ketika Spanish Flu mengguncang dunia dan merenggut setidaknya lima puluh juta nyawa. Sungguh pilu membacanya saja. Tidak pernah kubayangkan hal itu dapat berulang kembali di masa hidupku.

Belum lagi kalau kita belajar dari sejarah dan melihat betapa besarnya efek pandemi Spanish Flu tidak hanya untuk kesehatan dan populasi dunia, akan tetapi juga untuk ekonomi, politik dan berbagai efek jangka panjang yang disebabkan virus flu ini.

Virus flu!

Bagaimana mungkin suatu jenis virus flu dapat memiliki efek yang sungguh luar biasa seperti itu.

Aku takut COVID-19 pun memiliki efek yang serupa. Sekarang saja ratusan ribu sudah nyawa direnggut olehnya. Entah berapa banyak usaha terkena imbasnya dan entah berapa puluh juta orang kehilangan mata pencaharian.

Virus ini mengubah hidup banyak orang.

Awalnya setiap hari kunyalakan berita di TV dan kuikuti semua notifikasi di berbagai situs di internet terkait dengan virus COVID-19 ini. Bahkan aku membuka situs worldometer setiap saat untuk mengikuti jumlah persebaran dan korban di seluruh dunia. Segala teori mengenai virus ini telah selesai kuikuti, kubaca, kutonton.

Sampai aku lelah.

Jiwaku tak mampu lagi menanggung tekanan kekhawatiran-kekhawatiranku.

Khawatir Ibuku yang sudah berusia lanjut dan memiliki riwayat penyakit jantung terpapar virus ini.

Khawatir, bahwa apapun yang kita lakukan, kita tidak memiliki kendali untuk menghindari virus ini. Sebisa mungkin aku dan kakak-kakakku melindungi Ibu dari paparan virus yang sangat mematikan untuk orang lanjut usia dan memiliki penyakit bawaan ini. Tapi apakah yang kami lakukan sudah cukup? Semua orang masih berspekulasi! Tidak ada yang benar-benar yakin atas bulletproof method yang dapat melindungi orang-orang yang kita sayangi dari virus ini.

Kita benar-benar buta dan aku sangat tidak nyaman berjalan di kegelapan seperti ini.

Aku pun khawatir keluargaku lainnya terpapar virus ini atau terkena dampak lainnya dari pandemi. Terbukti sejak awal sudah ada beberapa orang yang kehilangan mata pencaharian karena pandemi ini. Tidak banyak yang bisa kulakukan..

Aku pun khawatir tidak akan sempat bertemu dengan keluarga dan teman-teman lagi dan khawatir tidak ada lagi kesempatan untukku untuk menjadi anak, adik, teman yang membawa kebahagiaan untuk orang-orang yang kusayangi.

Aku pun khawatir teman-temanku dan perusahaan tempatku bekerja terkena dampak dari pandemi ini.

Dan yang paling kukhawatirkan, khawatir akan kekhawatiran-kekhawatiranku akan berlangsung lama. Kapan vaksin bisa ditemukan? Apakah setelah ditemukannya vaksin segalanya dapat kembali normal seperti semula?

Sungguh, aku tak tahan lagi dengan kekhawatiran-kekhawatiranku.

Kucoba untuk menyibukan diri dengan segala pekerjaan. Pekerjaan di kantor memang menjadi lebih banyak selama pandemi. Hal ini sangat membantuku untuk mengurangi kekhawatiran-kekhawatiranku.

Di luar itu, kusibukan diri dengan segala pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak, menyetrika, membersihkan rumah. Tidak kuberikan sedikitpun waktu untuk melamun dan tenggelam dalam tekanan pikiran-pikiran sendiri.

The devils are on idle hands.

Kuikuti pula berbagai kursus online. Kursus bahasa, kesehatan, bisnis, seni. Segala rupa kuikuti.

Berbagai target olahraga harian pun kubuat sebagai tujuan.

10 ribu langkah.

30 menit cardio.

30 menit yoga atau pilates.

Dan tentunya, 30 menit menikmati mentari pagi sambil mengkoneksikan diri dengan bumi dan bermeditasi.

And it works wonderfully.

Sekarang kekhawatiranku tidak lagi muncul sesering biasanya.

Selain itu, berbulan-bulan hanya berinteraksi langsung dengan diri sendiri membuatku lebih nyaman dengan diri sendiri. Pikiranku lebih damai. Hatiku dipenuhi rasa syukur dari hal kecil sehari-hari.

Gratitude journal yang berisikan hal-hal yang kusyukuri setiap hari pun semakin bertambah isinya. Sekecil apapun itu, seperti segarnya udara pagi, selalu kusyukuri dan kunikmati.

Seringkali kita kehilangan kendali. Sesuatu mungkin terjadi pada hidup kita, tanpa kita berbuat apapun untuk menarik kejadian itu. Apapun yang kita lakukan mungkin tidak berpengaruh terhadap hasil akhirnya.

Disitulah kita diberi kesempatan untuk berserah diri.

Inilah kesempatanku untuk meningkatkan kepercayaanku kepada-Nya. Dia Yang Maha Tahu hanya akan memberikan hal yang baik meski mungkin tidak masuk akal sehat kita karena banyak hal yang tidak atau belum kita ketahui sekarang.

Suatu kutipan dari salah satu penulis favoritku terngiang-ngiang di kepala:

Agar ujian terasa ringan engkau harus mengetahui bahwa Allah lah yang memberikan ujian. Zat yang menetapkan takdir atasmu adalah Zat yang memberimu pilihan terbaik.

Ibnu Athaillah

nut nut nut”..

Suara alarm dari telepon genggam membangunkanku dari lamunan panjang ini. 30 menit sudah kunikmati cahayamu, terima kasih Mentari.

Dengan senyum lebar kulangkahkan kaki menuju ruang kerja. Aku siap untuk menghadapi hari.

#30DWC #30DWCJilid25 #Day8

30DWC

dewimayangsari View All →

Hello 2017!

Dewi is back blogging again!

For you who didn’t know my previous blog (it was 6-7 years ago..) you may want to know what I am about.. So here we go!

I am a 30 years old who loves everything nice about this life: good food, good books and good music. I eat almost everything and dare to try anything new. I read at least 2-3 books a month. Depends on my current mood, I listen to any music from Ben Howard to Calvin Harris and Linkin Park. *Yes, I am a pretty random person :D

I also love traveling, but who doesn’t. ;) I have been to almost all countries in Europe and Asia, I have also been to Morocco, Svalbard and Peru. I love traveling solo, but a good companion sometimes can be nice too (it’s good to have some good pictures from a trip, and not only a selfie filled with my big face and a tiny part of the view :D). Next, I will be in Korea and Japan sometime this year.
I love hiking too! I will be hiking Mount Sumbing and Rinjani of Indonesia (and some other smaller mountains) in 2017! Wish me luck :)

Oh and I love to know new people! Let’s talk! I love telling stories and have long talk during a coffee. I am too a movie addict and big fans of Ewan McGregor! Ping me when any of his movies is out and you have a spare ticket to share :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: